Hukum Barang-Barang Yang Terbuat Dari Kulit Hewan

Juni 23, 2007 at 10:49 pm Tinggalkan komentar

MediaMuslim.Info – Sebagian kulit hewan baik yang boleh dimakan maupun yang tidak suci untuk dimakan, diolah dan dimanfaatkan oleh sebagian manusia untuk dijadikan berbagai barang atau pernik seperti jaket, ikat pinggang, sepatu dan berbagai barang lainnya. Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak boleh gegabah, kita harus mengetahui terlebih dahulu batasan-batasan penggunaan kulit hewan tersebut, baik yang halal dimakan maupun yang haram, baik yang telah di samak maupun belum.

Kulit hewan yang halal setelah disembelih hukumnya suci dan boleh digunakan untuk dijadikan barang yang mendatangkan manfaat, karena telah disembelih secara halal, seperti kulit unta, sapi, kambing, rusa, kelinci dan lain sebagainya, baik yang telah disamak maupun belum.

Adapun kulit binatang yang tidak halal dimakan, seperti kulit anjing, srigala, singa, gajah dan sejenisnya hukumnya najis, baik mati dengan disembelih, dibunuh maupun mati dengan cara lainnya. Karena meskipun telah disembelih ia tetap tidak halal dan tidak boleh digunakan, hukumnya tetap najis. Baik telah disamak maupun belum, menurut pendapat yang terpilih. Menurut pendapat tersebut kulit yang najis tidak akan menjadi suci karena di samak, jika kulit itu berasal dari binatang yang tidak halal dimakan meskipun telah disembleih.

Adapun kulit bangkai binatang yang halal, hukumnya suci jika telah disamak. Sebelum disamak hukumnya tetap najis.

Berdasarkan keterangan di atas, kulit binatang dapat kita bagi menjadi tiga bagian:

  1. Kulit binatang yang tetap suci, baik disamak ataupun tidak. Yaitu kulit binatang yang halal dimakan setelah disembelih secara syar’i.

  2. Kulit binatang yang tidak suci karena disamak ataupun tidak, hukumnya tetap najis. Yaitu kulit binatang yang tidak halal dimakan, contohnya babi.

  3. Kulit binatang yang menjadi suci setelah disamak, yaitu kulit binatang yang halal dimakan yang mati tanpa melalui penyembelihan syar’i (bangkai).

(Sumber Rujukan: Liqa’ Al-Baab Al-Maftuh, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin 52/39)

Entry filed under: Al Fatawa, Arsip Al Fatawa, Bimbingan Ulama, El Fatawa, El Fatwa, Fatawa, Fatawa Islam, Fatawa Populer, Fatwa, Fatwa Islam, Fatwa Kontemporer, Fatwa Muslim, Fatwa Populer, Fatwa Ulama, Fatwa-Fatwa, Himbauan Ulama, Iman, Islam, Islamic Fatawa, Kontemporer, Kumpulan Fatwa, Moslem, Muslim, Nasehat Ulama, Nasehat Ulama-Ulama, Religius, Tuntunan Ulama, Wisata Hati. Tags: .

Hukum Menyembelih Pada Hari Tertentu Untuk Mayit Hukum Berwudhu’ Dengan Air Panas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Telah Dikunjungi

  • 150,663 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: