Tahukah Antum Makna Syahadat Laa Ilaaha Illallaah

Februari 12, 2007 at 4:08 am 32 komentar

MediaMuslim.InfoLAA ILAAHA ILLALLAH adalah sebuah kata yang sedemikian akrab dengan kita. Sejak kecil (kalau kita hidup di tengah keluarga muslim), kita akan begitu familiar dengan ucapan tersebut. Mungkin karena terlalu biasa mengucapkan kita sering tak peduli dengan makna yang hakiki dari kalimat tersebut. Malahan boleh jadi kita belum paham dengan maknanya. Sehingga bisa saja perilaku kita terkadang bertentangan dengan kandungan dari laa ilaaha illallah itu sendiri tanpa kita sadari.
Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi kehidupan keagamaan kita. Kalimat tersebut secara pasti menentukan bahagia dan celakanya kehidupan seseorang di dunia dan akhirat. Terus apakah terlambat bagi kita untuk tahu tentang makna syahadat tersebut di usia kita sekarang ini.? Jawabnya tidak ada kata terlambat sebelum nyawa sampai di tenggorokan kita, mari kita mulai dari sekarang untuk memahaminya. Untuk itu marilah kita mencoba mengangkat masalah makna syahadat ini untuk kemudian dipahami, agar melempangkan jalan kita meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Kalau kita tinjau sebenarnya kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH  mengandung dua makna, yaitu makna penolakan segala bentuk sesembahan selain Allah, dan makna menetapkan bahwa satu-satunya sesembahan yang benar hanyalah Allah semata. Berkaitan dengan mengilmui kalimat ini Allah ta’ala berfirman:

Maka ketahuilah(ilmuilah) bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah
(QS Muhammad : 19)

Berdasarkan ayat ini, maka mengilmui makna syahadat tauhid adalah wajib dan mesti didahulukan daripada rukun-rukun islam yang lain. Disamping itu nabi kita pun menyatakan

Barang siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan ikhlas maka akan masuk ke dalam surga( HR Ahmad)

Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah mereka yang memahami, mengamalkan dan mendakwahkan kalimat tersebut sebelum yang lainnya, karena di dalamnya terkandung tauhid yang Allah menciptakan alam karenanya. Rasul mengajak paman beliau Abu Thalib, Ketika maut datang kepada Abu Thalib dengan ajakan “wahai pamanku ucapkanlah LAA ILAAHA ILLALLAH sebuah kalimat yang aku akan jadikan ia sebagai hujah di hadapan Allah” namun Abu Thalib enggan untuk mengucapkan dan meninggal dalam keadaan musyrik.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggal selama 13 tahun di makkah menggajak orang-orang dengan perkataan beliau “Katakan LAA ILAAHA ILLALLAH” maka orang kafir pun menjawab “Beribadah kepada sesembahan yang satu, kami tidak pernah mendengar hal yang demikian dari orang tua kami”. Orang qurays di Zaman nabi sangat paham makna kalimat tersebut, dan barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan menyeru/berdoa kepada selain Allah.

LAA ILAAHA ILLALLAH adalah asas dari Tauhid dan Islam dengannya terealisasikan segala bentuk ibadah kepada Allah dengan ketundukan kepada Allah, berdoa kepadanya semata dan berhukum dengan syariat Allah.

Seorang ulama besar Ibnu Rajabb mengatakan: Al ilaah adalah yang ditaati dan tidak dimaksiati, diagungkan dan dibesarkan dicinta, dicintai, ditakuti, dan dimintai pertolongan harapan. Itu semua tak boleh dipalingkan sedikit pun kepada selain Allah. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya selama tidak membatalkannya dengan aktifitas kesyirikan.

Inilah sekilas tentang makna LAA ILAAHA ILLALLAH yang pada intinya adalah pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah ta’ala semata.

Perlu untuk diketahui, bahwa telah banyak penafsiran yang bathil yang beredar ditengah masyarakat muslim Indonesia secara khususnya mengenai makna LAA ILAAHA ILLALLAH, dan semoga kita terhindar dari kebathilan ini, yakni:

Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada sesembahan kecuali Allah.” Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.

Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada pencipta selain Allah.” Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.

Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah.” Ini juga sebagian dari makna kalimat laa ilaaha illallah. Tapi bukan ini yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup.

Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami menghimbau dan memperingati  di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) Laa ilaaha illallah ma’buuda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.

(Dikutip dengan berbagai penyesuaian dari: Kitab Tauhid, Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan)

About these ads

Entry filed under: Akhirat, Articles, Artikel Islam, Artikel Muslim, Hakikat, Haroki, Hati, Hizbut Tahrer, Imam, Islam, Mabit, Madah Tarbiyah, Mukmin, Muslim, Tafsiah Wa Tarbiyah, Tarbiyah, Tarbiyah Islam, Tarbiyah Muslim, Tarbiyah Umat, Taujih, Tsaqofah, Ukhuwah. Tags: .

Pernikahan Rasululloh Dengan Khodijah dan Usia Khodijah Merebaknya Kesyirikan Berkedok Islam

32 Komentar Add your own

  • 1. salafyindonesia  |  Februari 26, 2007 pukul 12:38 pm

    Salam kenal dengan blog baru kami

    Balas
  • 2. Sa'ad Tsabit  |  Maret 1, 2007 pukul 1:21 am

    Intinya kalimat thoyyibah tahlil tsb adalah sebuah untaian janji/sumpah seorang muslim terhadap Robb-nya.
    “Laa Ilaaha illalloh”.
    Laa bermakna nafiyah, artinya meniadakan.
    Apa yang harus ditiadakan oleh muslim?
    Ialah segala bentuk ilaah (ma’bud) yg diabdi oleh manusia, baik dalam bentuk simbol, benda (materi), aturan (undang-undang/hukum), kepemimpinan (kerajaan/negara/organisasi), hingga sebuah ideologi (keyakinan/argumen/zhon), selain dari pada Haqqulloh.
    illaa bermakna itsbat, artinya ada sesuatu yang wajib diadakan oleh muslim. Apa itu?
    Yakni Alloh. Lho bukannya Alloh itu bersifat wujud (ada), kenapa mesti kita adakan?
    Ingat saudaraku, yang mesti kita adakan itu bukan Dzat Alloh Azza wa Jalla-nya, namun adalah Bangunan Pengabdian Kepada Alloh-nya. Segala bentuk Ideologi, Hukum dan Kerajaan (Negara) Alloh-nyalah yang wajib untuk ditegakkan, sebagaimana makna instruksi ‘An Aqiimud Diin’ yang telah Alloh turunkan pada kita.
    Karena tanpa adanya Aqidah Islam, Tarbiyah Islam (Ta’lim Al Qur’an), Hukum Islam & Kerajaan (Negara/Daulah/Khilafah) Islam, sama artinya Kekuasaan Alloh itu menjadi tiada atau ditiadakan. Dalam keadaan tsb, sama jua maknanya bahwa Alloh menjadi TIDAK ADA di negeri tsb.
    Berbeda jika: Aqidah, Hukum dan Mulkan Alloh telah ditegakkan, sama artinya Alloh benar-benar Mengendalikan segala sesuatu ihwal kehidupan kita.
    Maka akankah kita terus-menerus menggantungkan harapan serta tumpuan hidup ini kepada sebuah aqidah, hukum dan negara yang jelas-jelas bernilai sekuleris nan bathil? Sampai kapan kita akan terus-menerus diperdaya oleh zhon syaithon la’natulloh.

    Islam Kalah, segenap semesta pasti binasa.
    Islam Menang, seluruh isi dunia bisa diselamatkan.

    Balas
    • 3. sisyanto  |  Januari 5, 2011 pukul 1:39 pm

      I love islam,salam hangat
      untuk semua kaum muslimin

      Balas
  • 4. iman  |  Maret 10, 2007 pukul 12:45 am

    jadi syahadat intinya mengajak kepada jalan yang lurus, menjauhi thoghut dan langkah-langkah syetan, dan tidak koperatif terhadap segala sistem jahil. dan mengikuti jalan yang sudah rosul contohkan dan kembali kepada AL Jama’ah bukan menjauhinya.

    Balas
  • 5. iman  |  Maret 10, 2007 pukul 12:51 am

    kembali menegakkan pemerintahan islam dengan metode/manhaj Nubuwah adalah inti Syahadat, maka kembali lah wahai pejuang-pejuang islam kita kembali kepada Al Jama’ah buang masalah-masalah yang lalu tapi songsong masa depan islam. karena Bangunan islam adalah rumah kita….mari kita ikat diri kita dengan Aqidah islamiyah

    Balas
  • 6. iman  |  Maret 10, 2007 pukul 12:56 am

    jauhi perpecahan adalah inti syahadat, kembalilah kepada kekesatuan yang sudah sah. karena tafaruq dan bangga dengan firqoh adalah bagian dari kemusyrikan

    Balas
  • 7. m4l4  |  Maret 25, 2007 pukul 12:51 am

    Intinya:
    PadaMu Rabbi Kami Berjanji
    PadaMu Rabbi Kami Mengabdi
    padaMu Rabbi Kami Berbakti
    BagiMu Rabbi Jiwa Raga Kami
    (Jadi ingat quantum Tarbiahnya pak abu )

    Balas
  • 8. Burhanuddin Razak  |  April 17, 2007 pukul 3:44 am

    Alhamdulillah.Kami bermaksud mendapatkan Kitab Tauhid, Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan) dimana kami bisa beli?.Wassalam

    Balas
  • 9. Jundi  |  Juni 19, 2007 pukul 1:24 am

    Garuda pancasila akulah pendukung Mu (red. Garuda)
    Patriot proklamasi sedia berkorban untuk Mu (Red. Garuda)
    ……dst.

    ternyata negeri ini adalah negeri yang penuh dengan kemusyirikan….

    Balas
  • 10. Fatih  |  Agustus 6, 2007 pukul 9:37 am

    Assalaamu’alaikum brothers and sisters. Masih ada dalam otak kita bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah pandangan hidup seperti yang disampaikan JIL? Masih ada dalam otak kita tentang ashshobiyah NKRI seperti yang disampaikan oleh JIL? Masih ada dalam otak kita tentang demokrasi seperti yang disampaikan oleh JIL? 13 abad lebih membuktikan syariah menjamin kemakmuran hidup muslim dan non muslim dibawah naungan khilafah. Demokrasi bukan apa-apa tetapi syariah segala-galanya. Jangan gentar meski nyawa jadi korban. Jadilah corong-corong kampanye bahwa kita belum merdeka selama syariah tidak ada. No dignity without Islam, no Islam without syariah, no syariah without khilafah. Wassalam. Fatih, Australia.

    Balas
  • 11. wahadi  |  November 22, 2007 pukul 1:34 am

    JAZZAKUMULLAH ATAS ARTIKELNYA SANGAT MEMBANTU DALAM MEMPERKAYA MATERI MENTORING DI KALANGAN ANAK UNAIR, SURABAYA.

    Balas
  • 12. arief  |  Februari 2, 2008 pukul 12:30 am

    assalamualaikum….
    ya akh…. ya ukh….
    ana masih bingung nih…
    klo orang yang masuk islam kan harus syahadat kan ??
    trus yang saya mau tanya yang lahir dari keluarga islam itu qo g di syahadat sih….
    apa anak2 yang lahir dari keluarga islam itu sudah bersyahadat??
    kalau sudah kapan???

    sukron!!!!

    wassalamualaikum….

    Balas
    • 13. indra  |  Januari 6, 2010 pukul 2:21 pm

      waalaikum salam…
      “kulu mauludin yuladu ala fitrah” setiap anak dilahirkan dalam keadaan Fitrah (berada dalm keislaman), apabila keluar dari Islam terus ia mau masuk islam lagi maka mestilah ia bersyahadat,
      catatan : tidak ada penetapan bahwa bersyahadat mesti dihadapan imam. sebagaimana aisyah( istri rasulullah),hasan,husen (cucu rasulullah), fatimah (putri rasulullah) tak ada sedikitpun keterangan bahwa mereka bersahadat masuk islam

      Balas
  • 14. alfan Rodhi  |  Juli 28, 2008 pukul 6:26 am

    Bahwa sesungguhnya apa yang kita perjuangkan baik kebenaran atau keburukan hanya bertujuan untuk kepentingan pribadi-pribadi…JIL dan lembaga semacamnya memiliki posisi yang sama dengan pengeritiknya dan saya yakin titik temu dari semua perdebatan serta diskusi tanpa akhir yang rentan dengan kekerasan ini adalah materi belaka…

    Balas
  • 15. alfan Rodhi  |  Juli 28, 2008 pukul 6:32 am

    Untuk Fatih, Anda berkata sangat lantang seperti itu seperti anda hidup di dimensi kehidupan yang lain. saya melihat keanehan anda seperti saya melihat anda sedang kerasukan ayat-ayat alqur’an dan alhadist. Text-text yang anda tidak cerna dengan baik dan dengan kesadaran. Memang engkaulah fatih yang Aneh….

    Balas
  • 16. Hafid  |  Juli 29, 2009 pukul 5:22 am

    yayayaya sgt bgs semoga

    Balas
  • 17. nafik  |  Juli 29, 2009 pukul 5:41 am

    hello I love islam

    Balas
  • 18. soefa D'mar  |  Oktober 29, 2009 pukul 3:57 am

    ass.ni bukan komentar,tpi ak mu konsul boleh ga, Q mau menaykn wktu tu Q mau dbngbng syhadat.tpi Q belm bsa menerma gitau, syukron

    Balas
    • 19. indra  |  Januari 6, 2010 pukul 2:25 pm

      kalo anda sudah ada di islam tak ada penetapan dari rasulullah untuk bersyahadat didepan imam…, Imam yang mana yang memerintahkan anda untuk bersyahadat

      Balas
  • 20. soefa D'mar  |  Oktober 29, 2009 pukul 3:58 am

    ass.Q mau konsul bolh ga

    Balas
  • 21. Muhammad Rizki Utama  |  November 22, 2009 pukul 12:42 am

    Assalamualaikum..
    salam semuanya..

    kmren, Sbtu 21 Nov, sya telah d bimbing bersyhadat oleh ssorng Ajengan, mnjadi twu mkna syahadat, apa yang harus kita lakukan jika kita telah berjanji kpda Allah..
    Sya sangat senang, bisa d pertemukan dengan orang” sperti mrka.
    Mencari Allah dlm diri kita, merupakan tgas pertama, Insyaalh jika kita sudah sperti itu, ketenangan jiwa kn kita dapatkan.
    Insyaallah keseharian kita akn lebih baik..:-)

    Balas
  • 22. abimanyu  |  Januari 31, 2010 pukul 5:16 pm

    kalau kita paham akan aqoid 50 itulah makna sahadat.pertanyaan
    nya apakah kita sebagai muslim sdh paham dengan aqoid 50 itu.adakah yang membahas tentang aqoid 50 di blog antum.maskur

    Balas
  • 23. Ujang Gobed  |  Februari 23, 2010 pukul 4:43 pm

    Assalamualaikum
    Mas, Q mo nanya nih , bagaimana mengucapkan 2 kalimat syahadat itu dengan benar agar afdol dan sah. karena klo ngucapinnya aja kayaknya sih mudah padahal sulit karena melihat arti syahadat itu sendiri ” aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah”
    yang saya tanyakan

    1.kalimat “bersaksinya” itu, kan kalau bersaksi harus pernah menyaksikan’ kalau tidak berarti membuat kesaksian palsu dan itu termasuk dosa besar.
    Seperti halnya Nabi besar kita Nabi Muhammad, bertemu dan mengenal Allah ( ma’rifatullah) ketika Isra Mi’raj.

    2. Bagaiman menetapkan bahwa syahadat yang kita ucapkan itu sah adanya. karena pasti ada syarat sahnya, Fardunya, rukunnya, sempurna nya serta batalnya syahadat yang kita ucapkan.

    Karna klo orang bilang Q-ta 2ini islam turunan

    Mohon bantuannya biar Q mantab setiap pengucapannya
    trims

    Balas
    • 24. Muhammad Rizki Utama  |  Agustus 25, 2010 pukul 8:14 pm

      @ Ujang Gobed : seperti halnya, ijab kabul, seseorang pasti ada saksi dan imam, ini terjadi juga pada jaman nabi Muhammad,
      Yang menjadi Imam tidak sembarang imam, kita harus berpkir syahadat yang kita lakukan bukan kepada Imam itu, tapi langsung kepada Allah, maka bisa drasakan perbedaan kita dimata Allah yang begitu rendah dan hina. Jika di dalam hati anda berniat mencari dienul Islam bukan agama Islam, karena perbedaan makna dien dan agama yang berbeda jauh, hidayah Allah pasti akan datang. hhe..

      Kita mengenal Islam memang dari orang tua, nah apakah Islam kita itu turunan? memang benar, hancurnya Islam sekarang tidak memikirkan pondasi Keislaman mereka, layaknya rumah yang kurang kokoh pondasi tentu akan rentang hancur.

      Masi Ingat Rukun Islam?
      Syahadat,Solat,Zakat,Saum,Haji..

      kenapa Syahadat beposisi pertama?
      bukan sembarang nomor, tapi nomor itu berurutan tahap demi tahap,yang mejelaskan dasar-dasar apa yang harus di dahulukan, syahadat layaknya pondasi rumah, memilki syahadat itu sangat penting.. Mengapa bnyak Islam KTP yang berperilaku bukan seorang muslim? y mereka itulah yang tidak mempunyai syahadat, yang tidak mempunyai ikrar di hadapan Allah..alias Islam turunan..

      mhon maf apbila ada ejaan kata yng kurang.. hhe..

      Balas
  • 25. anto  |  November 25, 2010 pukul 3:23 pm

    sesingkat itukah dan semudah itukah syahadat,,,,,sebaiknya kita-kita perlu banyak belajar lgi

    Balas
  • 26. WAHYU  |  Januari 16, 2011 pukul 11:55 am

    sah = resmi
    adat = perilaku

    perilaku yang sah adalah kita sebagi
    1. hamba = abdulah
    2. wakil Allah = kholifah
    3. rahmatan lil alamin
    jadi singkatnya kita harus menjadi :
    1. Muhammad = memberi jalan terang
    2. Rasul = pemberi petunjuk
    pertanyaannya :
    1. apakah kita sudah menjadi hamba yang baik?
    2. apakah kta sudah benar-benar menjadi wakil Allah dibumi
    3. apakah kehidupan kita bisa memberi kebaikan untuk sesama
    untuk bumi kita tercinta atau malah membuat kerusakan

    jika sudah mudah2an sahadat kita tidak hanya kata, tapi benar-benar sudah menjadi sebuah perilaku sehingga hidup kita benar benar mencerminkan kehidupan seorang hamba ALlah sekaligus sebgi kholifah dan rahmatan lil alamin

    Balas
  • 27. jamal  |  April 7, 2011 pukul 1:51 am

    MAAF TAPI SYA SANGAT ALERGI DENGAN SALAFI WAHHABI,YANG REFERENSINYA:
    1.IBNU TAYMIYAH
    2.IBNU QAYYIM ALJAUZIYAH
    3.MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
    4.NASHIRUDDIN AL ALBANI
    5.BIN BAZ
    6.AL UTSAIMIN
    7.AL FAUZAN BIN FAUZAN.

    Balas
    • 28. Mas Bek  |  Agustus 3, 2011 pukul 11:28 pm

      Akhi Jamal. Tak perlu begituu..Kalau memang dalam diri njenengan sudah ada ilmu dan memiliki hujah yg lebih kuat yang bertentangan dengan mereka, tak perlu khawatir. Sekedar menelaah tak ada salahnya. Toh tidak akan berpengaruh karena keilmuan antum tadi. Saya yakin kadang kita benci “buta” karena maaf berdasarkan pengalaman ana (ana beristighfar kepada Allah Azza Wajalla), mungkin omongan miring kawan akrab, Ustadz kita atau orang yg berpengaruh dalam hidup kita. Seperti orang padang mengatakan “saya alergi dengan sayur asem. Padahal orang jawa sangat menyukainya”. Bisa jadi tokoh-tokoh tersebut sangat cocok dengan diri antum atau antum memang betul-betul membencinya. Kan antum alergi, jadi mungkin baru mendengar sepak terjangnya yang dikisahkan secara “miring”. Saran ana nih, baca dulu..minimal antum tau dimana kelemahannya. Kalau ada, bagian mana yang antum benci?. Afwan, bisa jadi njenengan juga alergi dengan kata ‘antum’ dan ‘ana’ karena ke arab-araban?. Ana juga bukan salafi tapi tentu ingin mengikuti amalan-amalan salaf atau orang-orang yang lebih dekat jamannya dengan Rosululloh. Bukankah mereka umat terbaik?. Tidakkah kita juga takut bahwa amalan kita ternyata salah…padahal kita tidak mau menelitinya. Untuk mengetahui sebuah komunitas baik atau tidak, kadang kita harus masuk kedalamnya dulu. Untuk mengetahui diri kita bagus atau tidak kita juga perlu bertanya pada orang lain yang kita anggap lebih berilmu, apakah amalan kita ini sudah betul. Ada imam yang merasa PD, padahal bacaannya masih ” Alhamdulillahirobbil NGalamin dan ketika hendak di ganti masih tidak mau, karena bacaan yang dia miliki dia anggap tak ada masalah. “Imam bin Abdul Wahab misalnya, yang berusaha memberantas segala macam kesyirikan, tambahan-tambahan baru dalam agama islam, khurofat, tahayyul dan lain sebagainya..dimana salahnya. Syaikh Albani, seorang yang banyak waktu beliau digunakan untuk meneliti hadits karena banyaknya penceramah yang menggunakan hadits-hadits palsu dan lemah. Dan tokoh-tokoh lain yang antum sebutkan tadi. Afwan/maaf ana juga bukan salafi, orang tua saya NU gledekan, biasa sholawat dan lain sebagainya. Hanya saja orang tua saya demokratis untuk anak-anaknya mencari ilmu yang terarah dan bergaul dengan siapa saja, dan kadang beberapa amalan orang tua yang keliru kita betulkan, juga mereka mau terima, bahkan orang tua saya juga mengikuti kajian orang Muhammadiyah sehingga makin luas wawasannya Insyaalloh. Ayo kita amalkan watawa sawbil haqqi watawa shoubisshobr.

      Balas
      • 29. muhammad thahir  |  Oktober 7, 2011 pukul 1:20 am

        kebanyakan kita masih ‘terjajah’ oleh pemikiran orang lain, sehingga amalan2 hanya berupa doktrin, tidak mau tahu menahu tentang mengapa orang mesti bersyahadat. Banyak yang ‘terjajah’ oleh pikiran mahzab wahabi, syafi’i, hanafi, maliki, hanbali. Hemat kami tidak perlulah masing-masing merasa paling benar pendapatnya. Toh hanya pendapat, bukan kebenaran sejati. Pikiran dan mahzab ini hanyalah menafsirkan sesuatu yang mereka anggap benar. Syahadat bukan hanya untuk diketahui maknanya, tetapi bagaimana bersahadat dengan betul. Ini disebabkan sahadat yang diajarkan oleh baginda Muhammad SAW dalam bahasa arab, sehingga kurang ‘membumi’ bagi kita-kita yang buta bahasa arab.
        Disayangkan sebab sahadat diajarkan/diucapkan hanya dalam bahasa arab. Kenapa bukan diajarkan dalam bahasa ibu kita masing-masing, sehingga kita lebih mengerti. Itupun sahadat yang diajarkan hanya berupa ucapan, seperti mengajarkan kata kepada anak kecil. Kenapa tidak membahas kenapa saya mesti bersahadat, kenapa wajib, kenapa mesti diucapkan dengan ikhlas, apa maksud semua itu dalam pengertian bahasa ibu kita masing-masing?

  • 30. abu mujahid  |  April 28, 2011 pukul 3:40 am

    Ass.wr,wb. ana bukan menomentari namun ana mau bertanya:
    1. bagaimana hukumnya seorang muslim, tentunya sudah menikarkan dua kalimat syahadat namun mereka keyakinannya setengah-setengah, bahkan dia ragu dengan sahadat itu sendiri dibuktikan sholatnya masih banyak bolongnya ( jarang sholat ) kurang yakin dengan kitab Al-Qur’an dan Hadist sebagai dasar hukum yang dapat menghukuminya diakhirat dibuktikan masih banyak Firman Allah dan Sunnah Rosul yang di tentang walaupun mereka tdk mengatakannya dibuktikan mereka tdk mempelajarinya apabila diberi tau malah menghinanya ? mohon penjelasannya
    2. bagaimana orang islam yang tidak melaksanakan syari’at islam sepeti sholat, zakat, puasa ,haji dan lain atau menolak sebagaian dari syariat tersebut . mohon penjelasannya. Jazakallahu khoiron

    Balas
    • 31. rizkiscorpio1991  |  Juni 17, 2011 pukul 1:46 pm

      Abu Mujahid : Lebih lengkapnya silahkan anda cari kemudian baca dan telaah dengan teliti buku “Syahadatain” yg di tulis Muhammad Al Jiau Haq. ..

      Balas
  • 32. agus y  |  November 3, 2011 pukul 4:26 pm

    Lumayan buat pencerahan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Telah Dikunjungi

  • 128,373 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: