Surga dan Amarah

Februari 12, 2007 at 4:16 am 3 komentar

“Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.” [Imam al-Ghazali, dari kitab Ihya’ Ulumuddin]

 Anjing! Dikira aku ini apaan.”  Kalimat-kalimat kotor dan celaan sering kita dengar di sekeliling lingkungan kita. Entah karena spontan atau karena sudah kebiasaan. Tidak cukup sampai di situ, kadangkala, semburan kalimat-kalimat tidak pantas masih dibarengi dengan tindakan lain sebagai ekpresi amarah. “Brak!. Lihat saja nanti!, “ ujarnya sembari membanting pintu.

Contoh di atas adalah  ekpresi dari rasa amarah seseorang. Amarah adalah sikap alamiah yang dimiliki manusia. Ekpresi amarah, bentuknya bisa bermacam-macam. Mulai yang ringan hingga yang berat.

Amarah sering terjadi pada tingkatan-tingkatan tertentu. Umumnya, sebagai ekspresi kekecewaan, kebencian atau bentuk dari sikap kaum kuat pada yang lemah. Misalnya; atasan pada bawahan. Tua pada yang muda, suami pada istrinya, kakak terhadap adiknya, begitu seterusnya. Pada level-level seperti, ekpresi amarah relative lebih cepat terjadi.

Meski salah, amarah sering juga dianggap sebagai bentuk dari sikap menjaga wibawa, gengsi atau harga diri. Meski dari ketiga itu adalah sama-sama dari bentuk kesombongan yang hinggap pada diri seseorang. “Sori, jika aku mengalah, itu membuktikan aku lemah. Aku harus melawannya, “ begitu kalimat yang sering meluncur pada hati orang-orang yang diliputi perasaan gengsi. Yang lebih parah, ketika menganggap amarah sebagai bentuk keberanian.

Sering kita lihat di sekeliling kita, bagaimana ketika dua orang yang sedang bertengkar justru semakin ganas dan semakin tidak terkontrol dikala  sebagian orang justru sedang menengahi alias memisahkannya. “Jangan pegangi, lepas saja saya,” begitu ucapnya ketika sedang dilerai. Di hadapan banyak orang, ia seolah ingin menunjukkan ‘kekuatannya’ pada pihak lawan. Intinya, antara gensi,  sombong dan  amarah, bedanya ibarat sehelai rambut.

Karena itu, Islam lebih memuliakan orang-orang yang bisa mengendalikan diri dari rasa amarah di dadanya. Bahkan bagi yang mampu mengendalikan rasa amarah, Allah sendiri yang langsung menjanjikan kemuliaan padanya.

Rasulullah bersabda, “Man kaffa ghadhabahu kaffa Ilaahu’anhu adzaabahu wa mani’tadza ilaa rabbihii qabilallahu wa man hazana lisaanuhu satrallahu’auratahu.” [“Barangsiapa mampu mencegah kemarahannya, maka dicegah oleh Allah daripadanya akan azabNya. Dan barangsiapa yang meminta udzur kepada Tuhannya, maka Allah menerima udzurnya. Dan barangsiapa menjaga lidahnya [menahannya], niscaya Allah akan menutup auratnya]

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya neraka jahanam itu mempunyai satu pintu, yang tidak dapat dimasukinya, selain orang yang sembuh kemarahannya dengan perbuatan maksiat kepada Allah ta’ala.” [HR. Ibnu Abi Dunya dari Ibnu Abbas]

Selain itu, Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa mampu menahan kemarahannya dan ia sanggup melaksanakannya, maka ia dipanggil oleh Allah di hadapan manusia ramai dan ia disuruh memilih, diantara bidadari yang dia kehendaki.” [HR. Ibnu Abi Dunya dari Mu’adz bin Anas]

Begitu pentingnya amalan menahan amarah, sampai-sampai Allah tidak segan-segan memberi ganjaran luar biasa baginya. Menurut Rasulullah, “Laa tahdzab wa lakal jannah.” (Janganlah marah bagimu surga).[HR. Bukhari]

Ramadhan kali ini, adalah saat yang tepat bagi kita untuk melatih dan mengendalikan diri dari kebiasaan marah. Dan akan lebih baik lagi jika latihan ini tetap dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. [www.hidayatullah.com]

Iklan

Entry filed under: Articles.

Tuduhan Adanya Al-Qaidah di Poso Dinilai Menyesatkan Anggaplah Besar Dosamu

3 Komentar Add your own

  • 1. salafyindonesia  |  Februari 13, 2007 pukul 7:51 pm

    salam kenal

    Balas
  • 2. YUDY  |  Maret 16, 2007 pukul 9:54 am

    pernah ada teman saya yang bertanya tentang marah ini, yaitu bagaimana kalau batas kesabaran kita habis menghadapi seseorang?apakah boleh marah?
    saya jawab, tetap saja tidak boleh. dari hadits rasulullah saw ada seorang sahabat yang meminta nasehat kepada beliau, dan beliau menjawab janganlah engkau marah. ketika sahabat tersebut meminta nasehat yang lain, beliau juga menjawab janganlah engkau marah. hal tersebut beliau ulangi sampai 3 kali.
    ayo saudaraku, mari kita latih diri kita untuk dapat mengendalikan rasa marah……..

    Balas
  • 3. boy  |  Mei 31, 2007 pukul 7:06 am

    gw minta maaf karena pernah terlintas dipikiran mau mukulin orang-orang yg ngaku diri salafy… maapin abang ya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Telah Dikunjungi

  • 155,599 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: