Tempat Mencari Pahala

Januari 18, 2007 at 2:35 pm 1 komentar

Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian – ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur hablum-minallah dan hablum-minannas. Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasul-Nya telah menentukan “aturan main” bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur hablum-minallah manusia diwajibkan shalat; dan dalam jalur hablum-minannas manusia diwajibkan berbuat baik terhadap sesamanya. Semua “aturan main” ini tertuang lengkap dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw.
Barang siapa yang dapat tetap patuh melaksanakan “aturan main” ini, dengan niat semata-mata karena Allah, maka ia disebut orang yang bertaqwa. Dan dia akan memperoleh pahala, yang kelak akan dirasakan kenikmatannya di akhirat nanti. Jadi dengan perkataan lain, ladang tempat mencari pahala itu terletak pada jalur hablum-minallah dan hablum-minannas, karena pada dua jalur inilah Allah menguji ketaatan manusia mematuhi aturan-aturan yang ditentukan-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga, dan hati bukan tanpa tujuan. “Perlengkapan” ini merupakan sarana bagi Allah untuk menguji manusia, apakah dalam setiap situasi dan kondisi baik ataupun buruk ia mampu tetap taat mengikuti “aturan main” yang sudah ditetapkan-Nya atau tidak.

Simaklah baik-baik surat Al-Insaan:2,3 berikut :

Sesungguhnya kami telah menciptakan

Manusia dari setetes mani yang Bercampur yang kami hendak mengujinya

( dengan perintah dan larangan ), karena itu

Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

Sesungguhnya kami telah menunjukinya

Jalan yang lurus, ada yang bersyukur

Dan ada pula yang kafir.

Al-Insaan (76):2,3

Supir ugal-ugalan di jalan raya, atasan yang menjengkelkan, kolega yang picik, ataupun teman yang menyebalkan, ini semua terjadi karena Allah melengkapi kita dengan mata, telinga, dan hati. Oleh karena itu, orang-orang negative ini harus dipandang sebagai ujian Allah pada jalur hablum-minannas. Apabila orang-orang ini dapat kita hadapi sesuai dengan tuntunan yang diberikan-Nya melalui Rasul-Nya, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila mereka kita hadapi dengan emosi dan nafsu, maka berarti kita gagal. Hendaklah kita senantiasa mengingat pengalaman para bijak, “ Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu.

Dengan demikian, dapatlah dimengerti, bahwa semua masalah, baik itu masalah hubungan dengan Allah ( seperti misalnya rasa malas mendirikan shalat ), maupun masalah hubungan dengan manusia ( misalnya menghadapi orang yang menyebalkan , pada hakikatnya adalah hendak menguji, mampu atau tidak kita bersikap sesuai dengan kehendak Allah dan Rasulullah saw. Bila kita dapat bertindak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits dengan niat “ lillahi ta’ala “, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila masalah itu kita hadapi dengan nafsu, berarti kita gagal. Begitulah medan perjalanan yang harus ditempuh manusia dalam menuju surga. Dalam perjalanan itu pasti akan ditemui halangan dan rintangan yang kesemuanya itu merupakan ujian apakah kita mampu mengatasinya atau tidak. Tidak ada seorangpun manusia yang dibiarkan melalui jalan yang tanpa rintangan. Bahkan para kekasih-Nya sendiri, yaitu para nabi-nabi, melewati jalan yang jauh lebih sulit. Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih puteranya sendiri; sementara nabi Ayub dimusnahkan seluruh harta kekayaanya dan keturunannya, serta terserang penyakit menular yang sangat menjijikan. Sedangkan nabi Muhammad dilempari kotoran unta dan batu serta diboikot perekonomiannya sehingga beliau dan keluarganya serta para pengikutnya mengalami kelaparan yang amat sangat akibat kekurangan bahan makanan. Namun perlu kita ingat, bila ujian-ujian yang ditemui dalam perjalanan ini berhasil diatasi, maka hal-hal itu akan diperhitungkan Allah sebagai amal saleh, yang kelak akan diganjar dengan pahala. Semakin banyak amal saleh yang kita lakukan, maka akan semakin besar pula peluang kita untuk masuk ke dalam surga. Lihatlah penegasan Allah dalam Al-Qur’an berikut ini :

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal

Saleh baik ia laki-laki maupun perempuan

Sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka

Itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak

Dianiaya Walau sedikit pun.

An-Nisaa’ (4):124

Dan surga itu diberikan kepada kamu

Berdasarkan amal yang telah kamu kerjakan.

Az-Zuhruf (43):72

Sesungguhnya orang-orang yang beriman

Dan beramal saleh, bagi mereka adalah

Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka

Kekal didalamnya, mereka tidak ingin

Berpindah daripadanya.

Al-Kahfi (18):107,108

Dan orang-orang yang beriman dan me-

Ngerjakan amal-amal saleh, kelak akan kami

Masukan mereka ke dalam surga …..

An-Nisaa’ (4):57

Dan orang-orang yang beriman dan

Mengerjakan amal-amal saleh, kami tidak

Memikulkan kewajiban kepada diri seseorang

Melainkan sekedar kesanggupannya, mereka

Itulah penghuni-penghuni surga,

Mereka kekal di dalamnya.

Al-A’raaf (7):42

Dengan memahami hal tersebut di atas, akan dapat mencegah kita tertipu dan terlena mengikuti emosi atau pikiran yang negative, sehingga tidak akan menyimpang dari aturan main yang ditetapkan-Nya. Dan, insya Allah, kita tidak akan mengalami stress ataupun menjadi pendendam.

Sebagaimana telah diketahui, kekuatan manusia yang paling dahsyat dalam mengatasi ujian-ujian Allah adalah hati (kalbu). Oleh karena itu kita harus pandai-pandai merawat hati agar ia tidak menjadi rusak [ Asy-Syam (91):9-10 ]. Adapun salah satu kiat untuk menjaga hati, adalah dengan mengendalikan mata. Bila direnungkan, mata pada hakikatnya adalah hanya alat (scanner) yang memasukan informasi ke dalam hati. Informasi yang masuk ke dalam hati ini, akan menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ada seorang penderita penyakit kusta. Bila yang difokuskan oleh mata adalah penyakitnya, maka niscaya hati akan memunculkan kesan jijik. Tetapi bila yang difokuskan oleh mata segi manusia-winya, maka yang timbul adalah rasa iba. Dikisahkan bahwa nabi isa as, ketika berjalan dengan para muridnya, pernah menemukan bangkai seekor anjing. Para muridnya serentak menutup hidung sambil menunjukan rasa jijiknya. Namun nabi Isa as, tersenyum seolah-olah ia tidak melihat ada bangkai dihadapannya. Beliau berkata, “Coba lihat giginya, betapa putihnya!

Inti pelajaran yang diberikan oleh nabi Isa as. itu ialah, bila mata dapat dikendalikan hanya untuk melihat kejadian dari sudut pandang positif saja, maka niscaya hati tidak akan memunculkan kesan negatif.

Kita dapat menggunakan “ilmu” nabi isa tersebut untuk meredam rasa iri hati yang kadang-kadang muncul secara spontan ketika mendengar ada teman kita yang lebih sukses atau lebih kaya dari kita. Caranya yaitu dengan tidak memandang pada pangkat atau harta yang dimilikinya, tetapi dengan mengingat kenyataan bahwa soal rezeki memang dibuat Allah berbeda-beda. Hal ini dilakukan-Nya semata-mata untuk menguji manusia. Ingatlah pesan dari Abdullah bin Mas’ud ra., “Relakanlah hatimu dengan sesuatu yang Allah berikan untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa

Yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu

Lebih banyak dari sebagian yang lain.

An-Nisaa’ (4):32

Bila kebetulan kita termasuk orang yang dikaruniai banyak harta, maka hendaklah disadari, bahwa harta itu letaknya harus selalu ditangan, jangan biarkan ia menguasai hati. Ingatlah bahwa harta cenderung mengajak pemiliknya untuk membangkang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw, bersabda : “Tuhanku

Telah menawarkan kepadaku untuk men-

Jadikan lapangan di kota Mekah menjadi Emas.

Aku berkata, “Jangan Engkau jadikan emas wahai

Tuhan! Tetapi cukuplah bagiku merasa kenyang

Sehari, lapar sehari. Apabila aku lapar, maka aku

Dapat menghadap dan mengingat-Mu,

Dan ketika aku kenyang aku dapat

Bersyukur memuji-Mu. “

HR Ahmad & Tarmidzi

“Sesungguhnya Allah tidak melihat ke-

Pada rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat

Kepada hati dan amalmu.”
HR Muslim

Sumber referensi :

Bahan Renungan Qolbu. Ir. Permadi Alibasyah

Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an . Juz ‘Amma. Sayyid Quthb

Entry filed under: Akhirat, Articles. Tags: .

Kediaman Rasululloh Gelagat Mendogmakan Fiqh

1 Komentar Add your own

  • 1. aL_Minanda  |  Februari 5, 2007 pukul 6:16 am

    subhanallah…
    artikel penuh motivasi yang memberikan ghiroh bagi diri ana dalam berjuang terus untuk meraih mardhotillah..
    Maha Penyayang Allah Dengan Segala kemudahan dan balasan yang Dia Berikan…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Telah Dikunjungi

  • 150,663 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: