Perusahaan Asuransi Dalam Syariat Islam

Desember 4, 2006 at 10:37 pm 3 komentar

Akhir-akhir ini banyak bermunculan perusahaan -perusahaan asuransi dan masing-masing mengklaim memiliki fatwa yang membolehkan asuransi. Sebagian perusahaan itu mengungkapkan, bahwa uang yang anda bayarkan untuk asuransi mobil anda akan dikembalikan kepada anda hanya dengan menjualnya. Bagaimana hukum praktek itu ?Agar kita lebih memahami dan mengamalkan permasalahan ini, marilah kita mengajak hati kita untuk lebih mengutamakan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kita mendapatkan manfaat dan terhindar dari perkara-perkara yang bisa menjerumuskan kita kejurang kenistaan dan kesedihan abadi.Berikut Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhut Al-Ilmiyah Wal Ifta yang dikutip dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram.

Asuransi ada dua macam. Majlis Hai’ah Kibaril Ulama telah mengkajinya sejak beberapa tahun yang lalu dan telah mengeluarkan keputusan. Tapi sebagian orang hanya melirik bagian yang dibolehkannya saja tanpa memperhatikan yang haramnya, atau menggunakan lisensi boleh untuk praktek yang haram sehingga masalahnya menjadi tidak jelas bagi sebagian orang.

Asuransi kerjasama (jaminan sosial) yang dibolehkan, seperti ; sekelompok orang membayarkan uang sejumlah tertentu untuk shadaqah atau membangun masjid atau membantu kaum fakir. Banyak orang yang mengambil istilah ini dan menjadikannya alasan untuk asuransi komersil. Ini kesalahan mereka dan pengelabuan terhadap manusia.

Contoh asuransi komersil : Seseorang mengasuransikan mobilnya atau barang lainnya yang merupakan barang import dengan biaya sekian dan sekian. Kadang tidak terjadi apa-apa sehingga uang yang telah dibayarkan itu diambil perusahaan asuransi begitu saja. Ini termasuk judi yang tercakup dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan” [Al-Maidah : 90]

Kesimpulannya, bahwa asuransi kerjasama (jaminan bersama/jaminan social) adalah sejumlah uang tertentu yang dikumpulkan dan disumbangkan oleh sekelompok orang untuk kepentingan syar’i, seperti ; membantu kaum fakir, anak-anak yatim, pembangunan masjid dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Berikut ini kami cantumkan untuk para pembaca naskah fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhut Al-Ilmiyah wal Ifta (Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa) tentang asuransi kerjasama (jaminan bersama).

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga dan sahabatnya, amma ba’du.

Telah dikeluarkan keputusan dari Ha’iah Kibaril Ulama tentang haramnya asuransi komersil dengan semua jenisnya karena mengandung madharat dan bahaya yang besar serta merupakan tindak memakan harta orang lain dengan cara perolehan yang batil, yang mana hal tersebut telah diharamkan oleh syariat yang suci dan dilarang keras.

Lain dari itu, Hai’ah Kibaril Ulama juga telah mengeluarkan keputusan tentang bolehnya jaminan kerjasama (asuransi kerjasama) yaitu terdiri dari sumbangan-sumbangan donatur dengan maksud membantu orang-orang yang membutuhkan dan tidak kembali kepada anggota (para donatur tersebut), tidak modal pokok dan tidak pula labanya, karena yang diharapkan anggota adalah pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan tidak mengharapkan timbal balik duniawi. Hal ini termasuk dalam cakupan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: yang artinya: “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Ma’idah : 2]

Dan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Dan Allah akan menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Adz-Dzikr wad Du’at wat Taubah 2699]

Ini sudah cukup jelas dan tidak ada yang samar.

Tapi akhir-akhir ini sebagian perusahaan menyamarkan kepada orang-orang dan memutar balikkan hakekat, yang mana mereka menamakan asuransi komersil yang haram dengan sebutan jaminan sosial yang dinisbatkan kepada fatwa yang membolehkannya dari Ha’iah Kibaril Ulama. Hal ini untuk memperdayai orang lain dan memajukan perusahaan mereka. Padahal Ha’iah Kibaril Ulama sama sekali terlepas dari praktek tersebut, karena keputusannya jelas-jelas membedakan antara asuransi komersil dan asuransi sosial (bantuan). Pengubahan nama itu sendiri tidak merubah hakekatnya.

Keterangan ini dikeluarkan dalam rangka memberikan penjelasan bagi orang-orang dan membongkar penyamaran serta mengungkap kebohongan dan kepura-puraan. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada seluruh keluarga dan para sahabat. [Bayan Min Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta Haula At-Ta’min At-Tijari wat Ta’min At-Ta’awuni]

Wallahu ‘alam
Sumber: www.mediamuslim.info

Entry filed under: Articles, Artikel Islam, Artikel Muslim, Hakikat, Hati, Hizbut Tahrer, Imam, Islam, Mabit, Mukmin, Muslim, Tafsiah Wa Tarbiyah, Tarbiyah, Tarbiyah Islam, Tarbiyah Muslim, Tarbiyah Umat, Taujih, Tsaqofah, Ukhuwah. Tags: .

Sudahkah Kita Mengenal dan Mencintai Allah ? Akhlak dan Budi Pekerti Shalallaahu alaihi wasalam

3 Komentar Add your own

  • 1. wisatahati  |  Desember 4, 2006 pukul 11:58 pm

    ass. wr. wbr.apakah saya bloeh copy artikelnya ??

    Balas
  • 2. Abdul Chalik  |  Januari 16, 2007 pukul 12:10 am

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Saya cuma berfikir ketika membaca artikel ini, apakah para ulama yang membuat fatwa bahwa sebagian asuransi itu haram, benar-benar sudah mengetahui secara detail :
    1. Apa itu asuransi
    2. Kaidah halal dan haram dalam asuransi
    3. Perkembangan terakhir dari asuransi

    Lantas bagaimana dengan asuransi syariah (ta’min). Banyak juga ulama di timur tengah yang bisa menerima konsep ta’min.

    Saya khawatir jangan2 para ulama tersebut nggak update perkembangan asuransi terbaru. Kalo’ bikin fatwa dengan persepsi dan informasi yang tidak update bukankah itu sama dengan mengelabui dan membuat kerusakan baru?

    Wallohu a’lam bishshowaab

    Balas
  • 3. Fajar Nindyo  |  Oktober 25, 2007 pukul 8:20 am

    Secara hukum Islam, asuransi yang paling ideal memang berbentuk taáwuni (berbasis tolong menolong) sementara asuransi tijari dewasa ini lebih cenderung mengadopsi praktek asuransi konvensional. Menjadi tugas praktisi asuransi syariah beserta DPS dan DSN-MUI untuk selalu membenahi fatwa2 yang mungkin masih kurang relevan…Sebagai contoh dalam asuransi haji sebenarnya masih terdapat point2 yang kurang begitu jelas dalam fatwa DSN no. 39 tahun 2002.

    Bagi Anda yang ingin mendapatkan info lain tentang asuransi syariah dapat mengunjungi web kami di http://www.pojokasuransi.com. Tulisan di sana saya bahas secara independent dan tidak memihak perusahaan asuransi. Semoga pemikiran2 tsb dapat menjadi bahan kajian bagi para pengambil keputusan maupun lembaga otoritas fatwa tertinggi di Indonesia.

    Terima kasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Telah Dikunjungi

  • 150,663 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: