Beraktifitas, Ilmu dan Konsentrasi: Upaya Menggapai Bahagia

November 24, 2006 at 2:11 am 1 komentar

MediaMuslim.Info Di antara faktor yang dapat mengatasi goncangan jiwa karena tegangnya urat saraf dan hati yang galau ialah: “Menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas atau dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.” Aktifitas semacam ini bisa mengalihkan perhatian hati seseorang dari hal-hal yang dapat menggoncangkan hatinya.

Bahkan, mungkin mampu melupakan faktor-faktor yang mendatangkan kesedihan dan musibah, jiwanya menjadi senang dan sema-ngatnya pun bertambah. Faktor-faktor semacam ini bisa berlaku kepada orang yang beriman dan lainnya. Hanya saja, orang yang beriman unggul dengan keimanan dan keikhlasannya ketika dia menyibukkan diri dengan ilmu yang dia pelajari atau dia ajarkan, juga dengan perbuatan baik yang dia lakukan.
Jika yang dia lakukan berbentuk ibadah maka tentu nilainya adalah ibadah. Jika berbentuk pekerjaan atau kebiasaan duniawi dia ikuti dengan niat yang baik dan dimaksudkan untuk membantunya dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan karena itu semua, maka faktor-faktor tersebut sangat berperan dalam menghilangkan kesedihan dan berbagai macam musibah. Betapa banyak orang yang ditimpa kegoncangan hati dan kesedihan yang berlarut, sampai akhirnya ditimpa berbagai macam penyakit. Ternyata obat yang paling tepat untuk itu adalah dengan melupakan faktor-faktor yang membuatnya gelisah dan menyibukkan diri dengan akti-fitas-aktifitas pentingnya.

Karena itu hendaklah kita memilih kesibukan yang di-senangi dan diinginkan oleh jiwa. Sebab yang demikian ini dapat mempercepat hasil yang dimaksudkan. Wallahu a’lam.

Di antara hal yang juga dapat menolak kesedihan dan kegelisahan adalah mengkonsentrasikan segenap pikiran pada tugas/pekerjaan yang ada pada hari itu, tidak memikirkan hal yang masih akan datang serta kesedihan yang pernah terjadi. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mohon perlindungan dari Al-Ham dan Al-Huzn. Al-Huzn artinya kesedihan atas hal-hal yang telah berlalu yang sudah tidak mungkin ditolak dan diraih kembali. Al-Ham artinya kesedihan yang terjadi karena perasaan takut akan hal yang akan datang. Dengan demikian, seorang hamba akan menjadi “Ibnu Yaumih” (putra harinya), dia akan giat dan bersungguh-sungguh memperbaiki hari dan waktu yang dia ada saat itu. Bila hati dikonsentrasikan untuk hal ini, dia akan berusaha menyempurnakan semua tugasnya. Dengan demikian dia akan terhibur dari kesedihan dan musibahnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a atau mengajarkan umatnya berdo’a, pada hakikatnya dia memberikan dorongan –tentu dengan bantuan Allah dan karuniaNya– semangat dan kesungguhan mencapai prestasi dan menolak kegagalan sebagaimana yang diminta dalam do’a. Karena do’a itu bergandeng dengan amal. Setiap hamba berusaha men-dapatkan apa yang bermanfaat baginya dunia akhirat. Dan dia juga berdo’a memohon pertolongan Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar sukses mendapat apa yang dia inginkan. Seperti yang disabdakan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi-mu, mohonlah pertolongan kepada Alloh dan janganlah kamu bersikap lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seandainya saya bertindak begini, tentu (hasil-nya) akan begini dan begini.’ Tapi katakanlah: ‘Allah sudah mentakdirkan dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.’ Sebab, sesungguhnya perkataan ‘Seandainya …’ akan mem-buka (pintu) perbuatan syaithan.” (HR: Muslim)

Dalam hadits tersebut Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menghimpun antara perintah berusaha meraih yang bermanfaat dalam setiap kondisi dengan perintah mohon pertolongan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan perintah agar tidak memperturutkan sikap lemah yang merupakan cerminan dari sifat malas yang berbahaya. Semua itu dikumpulkan dengan perintah pasrah terhadap hal-hal yang sudah berlalu dan selalu memperhatikan qadha’ dan qadar Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Di sini Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi urusan manusia menjadi dua bagian: Pertama, bagian yang dibolehkan bagi seorang hamba berusaha mendapat-kannya, menolaknya atau meringankannya. Bagian kedua adalah bagian yang tidak boleh/tidak bisa disikapi seperti di atas. Di sini seorang hamba dituntut tenang, rela dan menerima. Dan tidak diragukan lagi bahwa memperhati-kan sikap semacam ini adalah faktor memperoleh kesenangan dan melenyapkan kesedihan.

(Sumber Rujukan: MENGGAPAI KEHIDUPAN BAHAGIA, Oleh: SYAIKH ABDURRAHMAN BIN NASHIR AS-SA’DY)

Entry filed under: Articles, Hakikat, Hati, Hizbut Tahrer, Imam, Islam, Mabit, Mukmin, Muslim, Tarbiyah, Taujih, Tsaqofah, Ukhuwah. Tags: .

Zionisme Internasional Menghafal Al-Qur`an pentingkah itu?

1 Komentar Add your own

  • 1. ardhika  |  Desember 11, 2006 pukul 7:39 am

    mengapai pertolongan Allah dengan berpikir, berdzikir, dan berikhtiar.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Telah Dikunjungi

  • 150,663 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: