Tahukah Antum Makna Syahadat Laa Ilaaha Illallaah
Februari 12, 2007
MediaMuslim.Info – LAA ILAAHA ILLALLAH adalah sebuah kata yang sedemikian akrab dengan kita. Sejak kecil (kalau kita hidup di tengah keluarga muslim), kita akan begitu familiar dengan ucapan tersebut. Mungkin karena terlalu biasa mengucapkan kita sering tak peduli dengan makna yang hakiki dari kalimat tersebut. Malahan boleh jadi kita belum paham dengan maknanya. Sehingga bisa saja perilaku kita terkadang bertentangan dengan kandungan dari laa ilaaha illallah itu sendiri tanpa kita sadari.
Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi kehidupan keagamaan kita. Kalimat tersebut secara pasti menentukan bahagia dan celakanya kehidupan seseorang di dunia dan akhirat. Terus apakah terlambat bagi kita untuk tahu tentang makna syahadat tersebut di usia kita sekarang ini.? Jawabnya tidak ada kata terlambat sebelum nyawa sampai di tenggorokan kita, mari kita mulai dari sekarang untuk memahaminya. Untuk itu marilah kita mencoba mengangkat masalah makna syahadat ini untuk kemudian dipahami, agar melempangkan jalan kita meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Kalau kita tinjau sebenarnya kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH mengandung dua makna, yaitu makna penolakan segala bentuk sesembahan selain Allah, dan makna menetapkan bahwa satu-satunya sesembahan yang benar hanyalah Allah semata. Berkaitan dengan mengilmui kalimat ini Allah ta’ala berfirman:
“Maka ketahuilah(ilmuilah) bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah“
(QS Muhammad : 19)
Berdasarkan ayat ini, maka mengilmui makna syahadat tauhid adalah wajib dan mesti didahulukan daripada rukun-rukun islam yang lain. Disamping itu nabi kita pun menyatakan
“Barang siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan ikhlas maka akan masuk ke dalam surga” ( HR Ahmad)
Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah mereka yang memahami, mengamalkan dan mendakwahkan kalimat tersebut sebelum yang lainnya, karena di dalamnya terkandung tauhid yang Allah menciptakan alam karenanya. Rasul mengajak paman beliau Abu Thalib, Ketika maut datang kepada Abu Thalib dengan ajakan “wahai pamanku ucapkanlah LAA ILAAHA ILLALLAH sebuah kalimat yang aku akan jadikan ia sebagai hujah di hadapan Allah” namun Abu Thalib enggan untuk mengucapkan dan meninggal dalam keadaan musyrik.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggal selama 13 tahun di makkah menggajak orang-orang dengan perkataan beliau “Katakan LAA ILAAHA ILLALLAH” maka orang kafir pun menjawab “Beribadah kepada sesembahan yang satu, kami tidak pernah mendengar hal yang demikian dari orang tua kami”. Orang qurays di Zaman nabi sangat paham makna kalimat tersebut, dan barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan menyeru/berdoa kepada selain Allah.
LAA ILAAHA ILLALLAH adalah asas dari Tauhid dan Islam dengannya terealisasikan segala bentuk ibadah kepada Allah dengan ketundukan kepada Allah, berdoa kepadanya semata dan berhukum dengan syariat Allah.
Seorang ulama besar Ibnu Rajabb mengatakan: Al ilaah adalah yang ditaati dan tidak dimaksiati, diagungkan dan dibesarkan dicinta, dicintai, ditakuti, dan dimintai pertolongan harapan. Itu semua tak boleh dipalingkan sedikit pun kepada selain Allah. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya selama tidak membatalkannya dengan aktifitas kesyirikan.
Inilah sekilas tentang makna LAA ILAAHA ILLALLAH yang pada intinya adalah pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah ta’ala semata.
Perlu untuk diketahui, bahwa telah banyak penafsiran yang bathil yang beredar ditengah masyarakat muslim Indonesia secara khususnya mengenai makna LAA ILAAHA ILLALLAH, dan semoga kita terhindar dari kebathilan ini, yakni:
Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada sesembahan kecuali Allah.” Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.
Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada pencipta selain Allah.” Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.
Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah.” Ini juga sebagian dari makna kalimat laa ilaaha illallah. Tapi bukan ini yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup.
Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami menghimbau dan memperingati di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) Laa ilaaha illallah ma’buuda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.
(Dikutip dengan berbagai penyesuaian dari: Kitab Tauhid, Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan)
Entry Filed under: Akhirat, Articles, Artikel Islam, Artikel Muslim, Hakikat, Haroki, Hati, Hizbut Tahrer, Imam, Islam, Mabit, Madah Tarbiyah, Mukmin, Muslim, Tafsiah Wa Tarbiyah, Tarbiyah, Tarbiyah Islam, Tarbiyah Muslim, Tarbiyah Umat, Taujih, Tsaqofah, Ukhuwah. .
17 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
salafyindonesia | Februari 26, 2007 at 12:38 pm
Salam kenal dengan blog baru kami
2.
Sa'ad Tsabit | Maret 1, 2007 at 1:21 am
Intinya kalimat thoyyibah tahlil tsb adalah sebuah untaian janji/sumpah seorang muslim terhadap Robb-nya.
“Laa Ilaaha illalloh”.
Laa bermakna nafiyah, artinya meniadakan.
Apa yang harus ditiadakan oleh muslim?
Ialah segala bentuk ilaah (ma’bud) yg diabdi oleh manusia, baik dalam bentuk simbol, benda (materi), aturan (undang-undang/hukum), kepemimpinan (kerajaan/negara/organisasi), hingga sebuah ideologi (keyakinan/argumen/zhon), selain dari pada Haqqulloh.
illaa bermakna itsbat, artinya ada sesuatu yang wajib diadakan oleh muslim. Apa itu?
Yakni Alloh. Lho bukannya Alloh itu bersifat wujud (ada), kenapa mesti kita adakan?
Ingat saudaraku, yang mesti kita adakan itu bukan Dzat Alloh Azza wa Jalla-nya, namun adalah Bangunan Pengabdian Kepada Alloh-nya. Segala bentuk Ideologi, Hukum dan Kerajaan (Negara) Alloh-nyalah yang wajib untuk ditegakkan, sebagaimana makna instruksi ‘An Aqiimud Diin’ yang telah Alloh turunkan pada kita.
Karena tanpa adanya Aqidah Islam, Tarbiyah Islam (Ta’lim Al Qur’an), Hukum Islam & Kerajaan (Negara/Daulah/Khilafah) Islam, sama artinya Kekuasaan Alloh itu menjadi tiada atau ditiadakan. Dalam keadaan tsb, sama jua maknanya bahwa Alloh menjadi TIDAK ADA di negeri tsb.
Berbeda jika: Aqidah, Hukum dan Mulkan Alloh telah ditegakkan, sama artinya Alloh benar-benar Mengendalikan segala sesuatu ihwal kehidupan kita.
Maka akankah kita terus-menerus menggantungkan harapan serta tumpuan hidup ini kepada sebuah aqidah, hukum dan negara yang jelas-jelas bernilai sekuleris nan bathil? Sampai kapan kita akan terus-menerus diperdaya oleh zhon syaithon la’natulloh.
Islam Kalah, segenap semesta pasti binasa.
Islam Menang, seluruh isi dunia bisa diselamatkan.
3.
iman | Maret 10, 2007 at 12:45 am
jadi syahadat intinya mengajak kepada jalan yang lurus, menjauhi thoghut dan langkah-langkah syetan, dan tidak koperatif terhadap segala sistem jahil. dan mengikuti jalan yang sudah rosul contohkan dan kembali kepada AL Jama’ah bukan menjauhinya.
4.
iman | Maret 10, 2007 at 12:51 am
kembali menegakkan pemerintahan islam dengan metode/manhaj Nubuwah adalah inti Syahadat, maka kembali lah wahai pejuang-pejuang islam kita kembali kepada Al Jama’ah buang masalah-masalah yang lalu tapi songsong masa depan islam. karena Bangunan islam adalah rumah kita….mari kita ikat diri kita dengan Aqidah islamiyah
5.
iman | Maret 10, 2007 at 12:56 am
jauhi perpecahan adalah inti syahadat, kembalilah kepada kekesatuan yang sudah sah. karena tafaruq dan bangga dengan firqoh adalah bagian dari kemusyrikan
6.
m4l4 | Maret 25, 2007 at 12:51 am
Intinya:
PadaMu Rabbi Kami Berjanji
PadaMu Rabbi Kami Mengabdi
padaMu Rabbi Kami Berbakti
BagiMu Rabbi Jiwa Raga Kami
(Jadi ingat quantum Tarbiahnya pak abu )
7.
Burhanuddin Razak | April 17, 2007 at 3:44 am
Alhamdulillah.Kami bermaksud mendapatkan Kitab Tauhid, Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan) dimana kami bisa beli?.Wassalam
8.
Jundi | Juni 19, 2007 at 1:24 am
Garuda pancasila akulah pendukung Mu (red. Garuda)
Patriot proklamasi sedia berkorban untuk Mu (Red. Garuda)
……dst.
ternyata negeri ini adalah negeri yang penuh dengan kemusyirikan….
9.
Fatih | Agustus 6, 2007 at 9:37 am
Assalaamu’alaikum brothers and sisters. Masih ada dalam otak kita bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah pandangan hidup seperti yang disampaikan JIL? Masih ada dalam otak kita tentang ashshobiyah NKRI seperti yang disampaikan oleh JIL? Masih ada dalam otak kita tentang demokrasi seperti yang disampaikan oleh JIL? 13 abad lebih membuktikan syariah menjamin kemakmuran hidup muslim dan non muslim dibawah naungan khilafah. Demokrasi bukan apa-apa tetapi syariah segala-galanya. Jangan gentar meski nyawa jadi korban. Jadilah corong-corong kampanye bahwa kita belum merdeka selama syariah tidak ada. No dignity without Islam, no Islam without syariah, no syariah without khilafah. Wassalam. Fatih, Australia.
10.
wahadi | November 22, 2007 at 1:34 am
JAZZAKUMULLAH ATAS ARTIKELNYA SANGAT MEMBANTU DALAM MEMPERKAYA MATERI MENTORING DI KALANGAN ANAK UNAIR, SURABAYA.
11.
arief | Februari 2, 2008 at 12:30 am
assalamualaikum….
ya akh…. ya ukh….
ana masih bingung nih…
klo orang yang masuk islam kan harus syahadat kan ??
trus yang saya mau tanya yang lahir dari keluarga islam itu qo g di syahadat sih….
apa anak2 yang lahir dari keluarga islam itu sudah bersyahadat??
kalau sudah kapan???
sukron!!!!
wassalamualaikum….
12.
alfan Rodhi | Juli 28, 2008 at 6:26 am
Bahwa sesungguhnya apa yang kita perjuangkan baik kebenaran atau keburukan hanya bertujuan untuk kepentingan pribadi-pribadi…JIL dan lembaga semacamnya memiliki posisi yang sama dengan pengeritiknya dan saya yakin titik temu dari semua perdebatan serta diskusi tanpa akhir yang rentan dengan kekerasan ini adalah materi belaka…
13.
alfan Rodhi | Juli 28, 2008 at 6:32 am
Untuk Fatih, Anda berkata sangat lantang seperti itu seperti anda hidup di dimensi kehidupan yang lain. saya melihat keanehan anda seperti saya melihat anda sedang kerasukan ayat-ayat alqur’an dan alhadist. Text-text yang anda tidak cerna dengan baik dan dengan kesadaran. Memang engkaulah fatih yang Aneh….
14.
Hafid | Juli 29, 2009 at 5:22 am
yayayaya sgt bgs semoga
15.
nafik | Juli 29, 2009 at 5:41 am
hello I love islam
16.
soefa D'mar | Oktober 29, 2009 at 3:57 am
ass.ni bukan komentar,tpi ak mu konsul boleh ga, Q mau menaykn wktu tu Q mau dbngbng syhadat.tpi Q belm bsa menerma gitau, syukron
17.
soefa D'mar | Oktober 29, 2009 at 3:58 am
ass.Q mau konsul bolh ga