Ukhuwah Begitu Indah
Januari 18, 2007
Ada SMS masuk, “Tolong yang punya golongan darah A segara datang ke PMI, ada saudara kita yang sangat membutuhkan”. Tanganku agak bergetar menerima SMS itu membayangkan orang yang sedang membutuhkan darah, tetapi golongan darah saya O bukan A.
Lantas, tanpa berpikir panjang, saya telpon beberapa teman. Teman pertama, golongan darahnya tak cocok. Kemudian saya telpon teman satu lagi, tak cocok juga, tapi dia merekomendasikan teman lainnya. Syukurlah cocok, dalam hati saya bergumam, alhamdulillah, akhirnya ketemu juga orang yang punya golongan darah A dan mau mendonorkannya. Hati saya berangsur tenang.
Di PMI, ternyata sudah menunggu beberapa orang, lebih dari sepuluh orang yang siap mendonorkan darahnya. Sebenarnya lima orang saja sudah cukup, tapi yang datang lebih banyak dari yang dibutuhkan. Semua itu berkat SMS yang beredar cukup banyak dan tertuju pada banyak orang pula. Awalnya, satu orang yang mengirim, berikutnya, yang menerima memforward SMS itu dan berlangsung secara zig zag sehingga ada beberapa orang yang menerima sampai dua kali.
Inilah wujud ukhuwah…
Ukhuwah yang begitu indah….
Sebuah kenangan manis tersendiri yang diperlihatkan oleh para kader dakwah. Di kampus, mereka bermarkas di unit-unit kerohanian Islam dan masjid kampus, sementara di masyarakat mereka bergerak pada wilayah garap profesinya masing-masing dan di sebuah partai Islam yang juga dikenal sebagai partai dakwah. Peristiwa ini hanyalah secuil kisah bagaimana ikatan persaudaraan sesama muslim, ikatan saling membantu dan meringankan beban orang lain tak hanya sekedar isapan jempol belaka, tapi benar-benar terwujudkan dalam kehidupan nyata.
Persaudaraan (ukhuwah) Islam tak terbatas ikatan biologis semata. Tetapi karena ikatan iman. Ikatan bahwa kita sesama muslim, kita adalah saudara. Ketika ada anggota tubuh yang sakit, semua ikut merasakannya. Inilah pengibaratan yang persaudaraan kita. Ketika ada di antara kita yang membutuhkan pertolongan, kita dengan senang hati, dengan rasa tulus membantu mereka yang membutuhkan.
Bukan atas dasar ingin dapat pujian, ingin dapat imbal jasa. Bukan, bukan karena itu. Tetapi, ini adalah perwujudkan cinta kasih kita terhadap sesama muslim, kita melakukan hal ini karena landasan iman. Seperti gambaran dalam sebuah hadist “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhori). Jadi, alangkah malunya kita ketika membanggakan diri sebagai orang beriman tapi tak peduli terhadap sesama.
Kini, kita saksikan berbagai penderitaan dan kemiskinan melanda bangsa kita, rakyat Indonesia. Kisah-kisah memilukan, menyayat hati sering kita dengar, kita baca dan kita lihat di media. Ketika berbicara rakyat Indonesia, yang terbayang adalah sejumlah besar penduduk yang muslim. Menghadapi kenyataan ini tak ada kata yang tepat bagi kita selain kepedulian. Pertanyaannya, bukan bisa atau tidak bisa kita mengakhiri kisah sedih rakyat Indonesia, tapi kita mau atau tidak mau melakukannya. Berbekal kemauaan, insyallah jalan akan terbuka lebar sehingga pelan tapi pasti kita kelak kita akan menyaksikan penduduk negeri ini makmur, bisa hidup layak dan penuh sentuhan religiusitas.
Sebagai penggugah jiwa, renungkanlah kata-kata ini.
Ada sebuah kata-kata bijak yang bisa mengingatkan kita;
“Siapa diri kita sesungguhnya dapat dilihat dari apa yang kita perbuat Bukan dari harta yang kita miliki”
Atau perkataan Sayyid Qutb, seorang pemikir dan aktivis Islam dari Mesir;
“Orang yang hanya memikirkan diri sendiri, akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tetapi orang yang mau memikirkan orang lain, ia akan menjadi orang besar dan mati sebagai orang besar”.
Begitulah kawan, kita semestinya bersikap.
Sebagai penutup, izinkan saya berterima kasih kepada seorang kawan. Semoga Allah SWT membalasnya dengan kebaikan. Suatu ketika, saya sedang kehabisan uang. Perut lapar karena belum terisi apapun. Disaat lapar inilah datang seorang kawan dengan muka penuh senyuman, “Bro, udah makan belum, ane traktir yuk”. Saat itu, rasa trenyuh tak terbedung lagi, sementara tak terasa air mata menetes penuh syukur.
Entry Filed under: Articles, Artikel Islam, Artikel Muslim, Hizbut Tahrer, Imam, Islam, Mabit, Madah Tarbiyah, Tarbiyah, Tarbiyah Islam, Tarbiyah Muslim, Tarbiyah Umat, Taujih. .
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
nurul anisah md shah | Januari 27, 2007 at 2:26 am
kat cini selalu ada cerita ttg hal2 agama n islam? bley ana mmeriahkn lg suasana? indahnya islam…
2.
dian | Februari 7, 2007 at 4:55 am
hmmm…memang benar ukhuwah itu akan teras sangat indah jika kita mau menolong sesama…tidak mesti memandang apakah qita mengenalnya atau tidak! kisah ini cukup menyentuh..semoga saja kita dapat berbuat demikian…tetaplah jaga ukhuwah di antara kita sebagai sesama makhluk Allah…!!
3.
anita | Februari 20, 2007 at 4:14 am
ukhuwah adalah salah satu ni’mat yg qta miliki sebagai muslim diantara ni’mat2 lainnya. patut disyukuri dengan turut berpartisipasi menyumbang ide, saran, tenaga, jasa,& apapun yg bisa qta berikan kpd saudara2 qta yg belum merasakan ni’mat ini, terutama mereka yang sedang m’butuhkan bantuan qta. Semoga 4JJ I meridhoi ikhtiar qta utk menebar ukhuwah,dgn niat yg lurus tentunya. Allahu Akbar!!
4.
mujahid kecil | Maret 14, 2007 at 12:09 am
subhaanalllah…..
seharusnya seperti itu kita….
sepakat kan?
semoga kita juga bisa seperti itu ya…..
tetep semangat..☺
Allahu Akbar….☺
5.
Irman | April 10, 2008 at 8:20 am
Ass,Subhanallah,semoga ukhuwah tetap terus terjaga,dan beginilah kita seharusnya wahai saudaraku.Allahuakbar!!!
6.
wafa | April 16, 2008 at 2:06 pm
Ukhuwah adalah salah satu nikmat terindah dan terbesar darinya. mari qt jagakeberadaannya dan dengan siappaun orangmya dan darimanapun dia cos tiada kata indah seindah kata ukhuwah